Geliat Bisnis Chairul Tanjung

- 12:27 AM
advertise here
advertise here
Di tangan Chairul Tanjung (CT) semua bisa jadi duit. Demikian perumpamaan kalangan pengamat bisnis tentang ‘tangan dingin’ CT. Artinya, bidang usaha apapun yang digarap CT, selalu mendatangkan keuntungan.

Lihat saja saat CT membeli 10,9% saham PT Garuda Indonesia Airlines Tbk (GIAA) bulan April tahun lalu. Saat itu, ia membeli 2.466.964.400 lembar saham GIAA seharga Rp 620 per lembar. Hanya dalam waktu setengah hari saja, harga saham GIAA di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Jumat (27/4/2012) sudah naik menjadi Rp 710 per lembar.

Itu artinya, CT sudah mengantongi potential gain sebesar Rp 90 per lembar saham GIAA atau Rp 222,026 miliar hanya dalam hitungan setengah hari. Total nilai saham yang dikantongi pun menggelembung menjadi Rp 1,751 triliun, dari nilai sebelumnya ketika pembelian di harga Rp 1,529 triliun.

Mengagumkan, tentu saja. Naluri bisnis CT, kata seorang pengamat, sangat brilian. Dia bisa mencium usaha apa yang bisa mendatangkan keuntungan. Itu pula yang dilakukannya ketika pada November tahun lalu ia memborong sisa 60% saham PT Carrefour Indonesia senilai US$ 750 juta atau Rp 7,2 triliun.

Dengan pembelian ini, jaringan hipermarket terbesar di Indonesia ini sepenuhnya menjadi perusahaan Indonesia, karena sebelumnya CT sudah mengempit 40% saham perusahaan konsumer asal Perancis ini. Asal tahu saja, CT mulai masuk ke Carrefour dua tahun lalu. Waktu itu, CT hanya membeli 40% saham Carrefour senilai US$ 350 juta.

Meski sudah menjadi miliknya, CT masih tetap mempertahankan nama Carrefour. “Trans Retail memperoleh hak eksklusif untuk menggunakan merek Carrefour di Indonesia berdasarkan perjanjian lisensi dengan Carrefour,” ujar CT. Hanya saja, katanya, lama-lama nama Carrefour akan mengecil dan nama Trans akan diperbesar.

Kini, di tangan CT, Carrefour akan dibenahi. Mulai tahun ini, pertumbuhan Carrefour akan digenjot dari semula 10% menjadi 30% setiap tahun. Tahun 2011, penjualan Carrefour mencapai Rp 14 triliun dan tahun 2012 diperkirakan di atas angka Rp 20 triliun.

Carrefour Indonesia saat ini menguasai lebih 40% pangsa pasar di segmen hipermarket dan supermarket. Jaringan operasionalnya sebanyak 85 gerai di 28 kota di Indonesia dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 28.000 karyawan.

Selain itu, perusahaan ini bermitra dengan lebih dari 4.000 pemasok—70% adalah UKM—dan melayani lebih dari 72 juta pelanggan di seluruh Indonesia. Tahun 2013, perusahaan ini akan fokus pada pengembangan gerai di Indonesia Timur, terutama kota-kota besar yang ada di Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

Saat ini rangkaian produk private label Carrefour sudah mencapai 120 jenis, mulai sirup, deterjen, popok bayi, beras, gula pasir, buku tulis, lampu, kertas, alat penanak nasi, sampai kompor gas. Dari 120 jenis itu, Carrefour mempunyai 3.380 stock keeping unit (SKU) private label.

Membeli Wendy’s

CT tampaknya begitu bernafsu masuk ke bisnis konsumer. Kabarnya, CT Corp berniat membeli lisensi waralaba rumah makan cepat saji, Wendy's dari pemegang lisensi di Indonesia, PT Wendy Citarasa.

Hingga kini, restoran cepat saji asal Ohio, Amerika Serikat, itu memiliki sekitar 30 gerai di seluruh Indonesia. Untuk menggaet pengunjung, Wendy's menjajakan paket makanan dengan harga terjangkau, mulai Rp 18.000-Rp 35.000.

Setelah berniat membeli Wendy's, sampai 2015 nanti CT Corp juga berniat mengembangkan gerai es krim Baskin-Robbins hingga mencapai 1.000 gerai. Hingga saat ini, Baskin-Robbins memiliki sekitar 450 gerai di Jakarta, Bali, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Pada Juni 2007 lalu, CT Corp menjadi pemegang lisensi waralaba es krim asal Massachussetts, AS ini, setelah mengakuisisi PT Naryadelta Prarthana. Sejak itu, CT Corp mengganti nama Naryadelta menjadi PT Trans Ice. Pada akhir 2010 lalu, Baskin-Robbins pun melebarkan bisnisnya dengan mendirikan Cafe Baskin-Robbins.

CT Corp tak hanya menggarap bisnis konsumer. Kelompok usaha ini juga menggarap bisnis keuangan dan perbankan, mulai dari Bank Mega, Bank Mega Syariah, Mega Life, Mega Finance, dan Mega Capital Indonesia.

CT juga memiliki CT Global Resources, yang mengelola perkebunan kelapa sawit lebih dari 60.000 hektar di Kalimantan melalui CT Agro.

Pendek kata, jaringan bisnis CT sudah menyebar ke mana-mana. Ada Baskin Robbins, Coffee Bean & Tea Leaf, Wendy’s, Trans TV, Trans 7, Detik, Carrefour Indonesia, Metro, Trans Fashion, Antatour, Vayatour, Trans Studio Bandung dan Makassar, The Trans Luxury Hotel, Ibis Hotel.

Lantas, bisnis apa lagi yang akan dimasuki CT?

Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di majalah InilahREVIEW edisi ke-33 Tahun II, yang terbit Senin, 15 April 2013. (Inilah)
Advertisement advertise here
 

Start typing and press Enter to search