Harapan Baru Buat Indri, Bayi Tanpa Anus

- 7:18 PM
advertise here
advertise here
Sukoharjo - Raut bahagia langsung terpancar dari wajah Indri Dwi Lestari (2), ketika menerima kue tart dan beberapa kado dari Soloblitz dan Samrodin, anggota Komisi IV DPRD Sukoharjo. Ya, hari ini Selasa (23/4/2013), Indri bocah malang yang terlahir tanpa lubang anus genap berusia dua tahun.

Namun ironis, selama hampir dua tahun itulah putri kedua pasangan Kuswanto (31) dan Santi (28) asal desa Pucangan, Kartasura Sukoharjo itu merasakan penderitaan, yang tak seharusnya dialami bocah seusianya.

Betapa tidak, Indri selalu saja menangis kesakitan tiap kali harus buang air besar melalui kemaluannya, karena dirinya terlahir tanpa lubang anus.

“Saya sudah tak tega mendengar tangisannya. Tapi apa boleh buat, untuk mengobatinya kami tak punya biaya. Karena untuk operasi dibutuhkan dana sekitar Rp 100 juta,” ucap Santi sang ibu dengan mata berkaca-kaca.

Samrodin sendiri yang pada saat itu datang bersama istrinya, juga tak kuasa menahan haru, ketika melihat Indri meminta ayahnya untuk membuka salah satu bungkusan kado, yang ternyata adalah boneka panda.

Sementara tangan dan mulut Indri belepotan gula-gula kue tart langsung dimakannya.

“Neka-neka (Boneka,-red),” celoteh Indri seraya memeluk boneka panda barunya dengan senyum bahagia.

“Hal seperti ini tak boleh dibiarkan. Kami akan berupaya untuk membantu pengurusan kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) bagi Indri, sehingga bisa segera dioperasi,” tegas Samrodin yang langsung disambut isak tangis haru dari kedua orang tua Indri.

Indri Bakal Didaftarkan Jamkesmas

Masih adanya kuota Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) bagi masyarakat miskin di kota makmur tahun ini menjadi angin segar bagi Indri. Sebab, kemungkinan putri bungsu pasangan Kuswanto (31) dan Santi (28) ini untuk segera mendapatkan tindakan medis semakin besar.

Anggota Komisi IV DPRD Sukoharjo, Moch. Samrodin mengatakan, tahun ini Pemkab Sukoharjo diberi kesempatan untuk mengajukan nama penerima Jamkesmas baru untuk menggantikan data milik Badan Pusat Statistik (BPS) yang ternyata tidak valid. Batas pengajuan ke Kementrian Kesehatan sendiri masih Juni mendatang.

“Kalau kedua orang tuanya sudah memiliki Jamkesmas, begitu juga kakaknya, seharusnya Indri juga bisa terdaftar dalam penerima Jamkesmas. Tidak perlu menunggu sampai dua tahun,” tandasnya usai mengunjungi Indri di rumah orang tuanya di Pucangan, Kartasura, Selasa (23/3/2014).

Karena itu, lanjutnya, Samrodin berjanji akan mencoba memasukkan Indri dalam daftar penerima Jamkesmas yang akan diajukan Pemkab Sukoharjo Juni mendatang.

“Kalau saya lihat tadi bapaknya sudah pernah mengajukan surat keterangan dari kelurahan setempat terkait kondisinya yang memang tidak mampu. Nanti kita lihat apa saja data yang masih kurang untuk masuk daftar Jamkesmas, kalau memang sudah lengkap akan kita upayakan agar segera bisa dapat Jamkesmas,” tutur Samrodin.

Terkait kondisi Indri sendiri, Samrodin mengaku sangat memprihatinkan kondisi balita tersebut. Sebab, harus menahan penderitaan selama dua tahun.

“Kasihan kalau terus dibiarkan begitu saja. Selain kesakitan, lama kelamaan kalau dibiarkan dikhawatirkan bisa mempengaruhi kesehatannya, apalagi Indri anak perempuan. Karena itu, diharapkan dengan Jamkesmas nanti bisa langsung mendapatkan tindakan medis yang dibutuhkan,” ujarnya. (soloblitz)
Advertisement advertise here
 

Start typing and press Enter to search